Senin, 06 Juni 2011

tentang...


..........
kesedihan tidak pernah membiarkan kebahagiaan datang sendirian ke hidup manusia..
padahal..
seringkali kita tak punya cukup persediaan untuk menjamunya secara bersamaan..
terlalu banyak kesedihan dan rasa sakit..
padahal hidup terlalu singkat untuk rasa itu
.........



Rabu, 25 Mei 2011

GolDen _ TruLLy


Tuhan...
diantara semua kesedihanku..
KAU selipkan juga kebahagian..
KAU hadirkan dia dihadapanku..
ia membuatku untuk tersenyum hari ini...

apa yg lebih berarti daripada tawa.. kl bukan senyuman kan TUHAN?

seperti gerimis yg lebih menyenangkan daripada hujan..
seperti berjalan yg lebih membuatku tenang daripada berlari dan
gelap yg lebih membuatku lebih aman daripada terang..

>harijujurseduniakitaGoldenTrully

Sabtu, 24 April 2010

Tuhan, kalau saja…

Tuhan, kalau saja…

Kalau saja aku harus hidup sederhana dan menderita

Kalau saja aku harus membuang segala impian dan ambisiku

Kalau saja aku harus melewatkan banyak kesempatan yang menguntungkan


Kalau saja…

Ku harus hidup dalam duka dan air mata,

keringat dan penantian sepi yang seolah abadi,

dengan tangan terkatup dan bibir yang tergigit,

dengan geraham yang bergemeretak dan tubuh yang lapar,


Tuhan, kalau saja…



Jikalau semua itu membuat-Mu senang, ya, Tuhan…


Jadikan ku taat pada-Mu

jadikan ku setia dan mengutamakan kehendak-Mu dalam

hidupku, impianku, ambisiku,


Jikalau semua itu membuat-Mu senang, ya, Tuhan…


Jadikan hidupku habis terpakai oleh-Mu,

supaya jangan seorang pun menggunakannya selain untuk-Mu

namun tahan air mataku,



supaya kelak ketika tiba saatnya Engkau memanggilku pulang,

ku akan mengerang dan menggertakkan gigiku,

dan ku dengan tawa haru dan tangisan tiada banding,

Engkau akan memelukku dalam kebahagiaan sejati yang abadi

Jikalau semua itu membuat-Mu senang, ya, Tuhan pemilik hidupku…

_______________________________________________)0(________________________________________
Dan aku pun menangisi beratnya isi hatiku, ketika menyadari bahwa kesenangan dan kemuliaan Tuhan adalah yang lebih utama daripada kesenangan dan kenikmatan hidupku... Namun Tuhan menggantikannya dengan sukacita, oleh karena hakikat manusia yang sesungguhnya adalah memuji-muji Allah dengan setiap aspek petualangan hidupnya. Setiap hari Tuhan masih menciptakan hal-hal menakjubkan, termasuk dalam hidupku, menjadikannya semakin indah untuk dijalani bagi Tuhan dan Tuhan saja.... 



#terimakasih Tuhan


Senin, 31 Desember 2007

Pertempuran kupu2 dan kecoa ~__~"



curhatitis diusia 27th
Menginjak usia seperempat abad bukanlah hal yang menyenangkan, jika boleh diingat-ingat. Rasanya baru dua bulan berlalu, sejak saya menggenggam jabatan usia "perak" ini, pertanyaan demi pertanyaan sudah bergulir hebat:
 "Kapan menikah?" atau "Nunggu apalagi sih?" atau"Mana calonnya?". Yayaya. Standar, bukan?

Alhasil, pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan sebuah helaan nafas dan senyum tentunya. 
Anggap saja doa, bukan untuk menjatuhkan. Bukan untuk menjatuhkan.
Ya, pertempuran kupu-kupu dan kecoak dalam hati selalu terjadi saat pertanyaan tersebut terlontar, dari siapapun itu. Antara dongkol, mendumel, hingga ingin menyusupkan petasan di mulut sang penanya, atau hanya tersenyum tipis, dengan mata yang terpaksa menyipit.

But anyway, sebenarnya buat apa saya kesal, ya?

Nikah merupakan ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama: hidup sbg suami istri tanpa -- merupakan pelanggaran thd agama;  (sumber: KBBI)

Memang, bagi setiap orang, arti menikah itu beda-beda. Ada yang menikah karena disuruh keluarga. Ada pula yang menikah karena desakan keadaan dan kondisi. Pun ada yang menikah cuma gara-gara ingin mendapatkan penghidupan yang layak.

Dari kecil, saya adalah sosok anak perempuan yang disusupi dongeng-dongeng mengenai happy ending yang terjadi seusai ikatan pernikahan terjadi. Pasangannya, tentu saja seorang pangeran berkuda putih yang charming dan baik hati. Tak heran bila ketika dewasa, saya mendambakan hal itu pula. Bertahtakan gaun putih dengan rangkaian bunga di tengah taman, tentunya dengan buket bunga di tangan.

Tetapi, perihal menikah tidak sesederhana itu bukan? 

Menikah itu adalah hal sakral. Bukan persoalan sepele, receh dan bisa dianggap enteng.
Bagi saya, ikatan pernikahan cukup berlangsung sekali, dengan waktu dan pasangan yang tepat.
Menikah merupakan jembatan menuju sebuah kehidupan yang sebenarnya. Agama sudah berperan di sana. Bukan hanya sekadar rangkaian diksi bertema cinta. Bukan cuma tertulis di buku dan surat nikah saja.

Rasa, tanggung jawab dan kesiapan tidak bisa direkayasa.

Meskipun, memang tak bisa disangkal, wanita memiliki batas usia biologis bagi sebuah pernikahan, khususnya bila kelak ingin memiliki keturunan.Otomatis, ketika sudah menginjak usia dua lima, makhluk bergender ini akan sering ditanyai perihal pernikahan. 

Tapi, semua akan terjadi pada waktu yang tepat, dengan orang yang tepat dan juga tempat yang tepat. Dan pasti, hati yang siap. Bukan hati yang setengah terpaksa, atau pikiran yang masih berkubang di masa lalu.

Everbody have their own perfect times to be happy.  And I'm pretty sure, I'll recognize my own perfect time, later. Just, be patient.